Kerja lapang.
Sebagian lagi mungkin menganggap ini sebagai kerja yang hanya menjalankan tugas atau perintah dari pimpinan. Setelah pulang dari lapang langsung terima uang "walaupun ke lapang cuma minta tanda tangan kantor desa"
Namun bagi sebagian lain, kerja lapang adalah lahannya untuk menambah ilmu.
Menambah ilmu bercengkrama dengan alam Nya yang maha luas.
Jika di kantor sana dipenuhi oleh kepentingan dan politik yang kadang membuat hati berucap miris, disini kami mencoba membangun diri dan hutan kami untuk menjadi lebih baik.
Tidakkah kalian miris saat dikantor hanya "okang-okang" kaki dibayar 100 ribu perhari dengan uang rakyat?
Masih kah kalian harus bertengkar dan berselisih paham demi kepentingan sempit kalian? Saat masyarakat butuh aksi nyata dari kita? Tidakkah kalian lihat senyum harap mereka disana, menunggu aksi nyata? Kenapa kerja harus dengan kepentingan pribadi, bukankah kerja itu ibadah kawan? Ataukah kalian bekerja untuk mengibadah pada 'kepentingan'?
Masih banyak diluar sana yang tak punya kesempatan, yang ikhlas membangun hutan mereka, kesempatan mengabdikan diri demi hutannya, jika disana di kantor yang dibangun dengan uang rakyat kalian masih sibuk dengan hiruk pikuk bertengkar demi kepentingan, maka betapa sedih dan miris nya hati mereka.
