Halaman rumah ku, Halaman Rumah kita, diam engkau terpaku dalam keheningan.
Menangis dalam kesepian, engkau terpaku kaku dalam ketakberdayaan.
Halaman rumahku berteriak dalam kebisuan tak bergerak, raungan mesin mengalahkan gagahnya engkau berdiri tegak.
Dentuman pohon rubuh mengisyaratkan halaman rumah ku butuh pertolongan, penghuninya ditebang dan dianiaya dalam kebisuan lembah bukit borneo.
Halaman rumahku menangis darah, air matanya mengalir di sungai penuh lumpur dan tanah, menggantikan tangis kebahagian di sungai nan dulu bersih dan jernih.
Halaman rumahku dilukai keci tak terpuji, rakus manusia mengalahkan rasionalitas hidup indah nan lestari.
Penghuninya dibunuh seketika setelah beratus2 tahun ia bertahan hidup.
Halaman rumah ku pun dikorbankan demi yang namanya keberlangsungan hidup manusia 'katanya'.
'Demi manusia' 'demi sang khalifah dunia'.
Penghuninya dibunuh seketika setelah beratus2 tahun ia bertahan hidup.
Halaman rumah ku pun dikorbankan demi yang namanya keberlangsungan hidup manusia 'katanya'.
'Demi manusia' 'demi sang khalifah dunia'.
Halaman rumah ku, diam engkau terpaku dalam hening dan sepi.
Dinginnya hutan, bukan berarti hidupmu kan sepi sendiri, izinkan diri ini merasakan engkau, membelai dan bercengkrama dgn mu d rimba borneo nan luas ini, izinkan ku menimba, dan menggali ilmu darimu, karena ku yakin belajar dari mu berarti aku belajar untuk mengenal dan mensyukuri nikmat dari-Nya.
Borneo, 30 Feb 12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar