Jumat, 31 Agustus 2012

'Like earth' ku menyebutnya

Betapa indahnya hidup d tengah alam nan asri ini...
JALAN PULANG SUKABUMI ('likeearth' ku menyebutnya), selalu menyuguhkan pemandang jagat raya tak terkira luar biasa. Takjub, heran, ucap syukur, dan bahagia terpatri dalam diri. Alhmdulillah masih dberi nikmat tuk melihat kebesaranNya.

Cahaya surya sore ini begitu indah, matahari bersembunyi malu dibalik gagahnya gunung Salak. Memancarkan cahaya merah jingganya ke bentang vertikal sawah dan hutan.

Embun sore menambah eksotisnya alam sore ini. Seperti kabut di puncak gunung sana, sejuk, segar dan romantis.

Gumpalan2 awan seakan menggambarkan semangat kebersamaan yang tak pernah lekang, putih bersih. Walau kadang terpisah angin tp mereka tak pernah lelah tuk bersatu kembali.

Gemuruh kereta mengantarkan semangat diri tuk menapaki hidup.

Langit memerah menambah rupawan nya lukisan alam sore ini. SubhanAllah mudah2an umur diri ini tetap bisa melihat keagunganNya, Amiin.

Tetap semangat,karena hidup penuh warna bila kau memahaminya..



suara lirih malam

Pejuang Jalanan

'?'


Dek, dengan petikan gitar kecilmu itu kau bernanyi, bernyanyi dengan suara lugu lima tahunmu.
Dek, dengan Mata kecilmu yang telah memerah dan berair itu kau menahan kantuk di hembusan angin malam.
Dek, tak kau hiraukan debu malam kan membuatmu sesak.
Dek, semoga semua yg kau telah lakukan ini menjadikanmu kuat dan tangguh untuk masa depan mu nanti.


"Karena yg namanya pejuang itu adalah orang yg pernah merasakan kesulitan, bersahabat dengan cobaan, bergelut dengan kekurangan, berkubang dengan lumpur derita,merangkak dari yang kecil hingga nanti tumbuh besar" 



untukmu para pejuang jalanan

Borneo #2

Nyangu.. @Tanggo1


Kamis, 30 Agustus 2012

Borneo #1

air matanya mengalir di sungai penuh lumpur dan tanah

Halaman rumah ku, Halaman Rumah kita, diam engkau terpaku dalam keheningan.
Menangis dalam kesepian, engkau terpaku kaku dalam ketakberdayaan.
Halaman rumahku berteriak dalam kebisuan tak bergerak, raungan mesin mengalahkan gagahnya engkau berdiri tegak.
Dentuman pohon rubuh mengisyaratkan halaman rumah ku butuh pertolongan, penghuninya ditebang dan dianiaya dalam kebisuan lembah bukit borneo.

Halaman rumahku menangis darah, air matanya mengalir di sungai penuh lumpur dan tanah, menggantikan tangis kebahagian di sungai nan dulu bersih dan jernih.
Halaman rumahku dilukai keci tak terpuji, rakus manusia mengalahkan rasionalitas hidup indah nan lestari.
Penghuninya dibunuh seketika setelah beratus2 tahun ia bertahan hidup.
Halaman rumah ku pun dikorbankan demi yang namanya keberlangsungan hidup manusia 'katanya'.
'Demi manusia' 'demi sang khalifah dunia'.

Halaman rumah ku, diam engkau terpaku dalam hening dan sepi.
Dinginnya hutan, bukan berarti hidupmu kan sepi sendiri, izinkan diri ini merasakan engkau, membelai dan bercengkrama dgn mu d rimba borneo nan luas ini, izinkan ku menimba, dan menggali ilmu darimu, karena ku yakin belajar dari mu berarti aku belajar untuk mengenal dan mensyukuri nikmat dari-Nya.

Borneo, 30 Feb 12.